7 Pelajaran Bisnis dari Twitter


“Twitter dulu, ah.” Atau, “Nge-tweet dulu, ah.” Dua kalimat itu mungkin sudah merupakan frase wajib dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya Facebook, Twitter seakan merupakan identitas virtual yang harus dimiliki semua orang.

Situs dengan logo burung ini memungkinkan penggunanya mengirim dan membaca pesan singkat yang disebut sebagai “tweet”. Kemampuan teksnya sangat terbatas sekali: hanya 140 karakter. Sifat pesannya yang pendek ini menyerupai SMS sehingga Twitter acapkali disebut sebagai “SMS-nya Internet”. Pengguna yang menggunakan Twitter ini sama sekali tidak dipungut bayaran alias gratis.

Lantas, apa yang bisa dipelajari dari Twitter?


Pelajaran Pertama: Sekalipun berada di dunia maya, logo dan merek merupakan identitas yang harus direncanakan dengan matang.

Twitter yang masuk dalam 50 besar situs yang paling banyak dikunjungi di dunia didirikan pada 2006 oleh Jack Dorsey dari perusahaan podcasting, Odeo. Idenya sangat sederhana: mengawinkan SMS dengan jejaring sosial. Inspirasi dasarnya datang dari SMS group messaging services TXTMob.

Nama Twitter sendiri cukup kuat untuk melukiskan bisnisnya. Twitter artinya “kicau burung”. Nama ini diperkuat dengan logo Twitter yang memang berbentuk burung. Jelas, sebuah ide bisnis yang diartikulasikan dalam bentuk brand visual yang matang.


Pelajaran kedua: Sama seperti bisnis konvensional lainnya, bisnis website membutuhkan perencanaan keuangan yang kuat. Pastikan memiliki sumber dana yang mencukupi.

Hampir semua bisnis teknologi informasi, terutama website, menjadi besar dengan injeksi modal dari modal ventura (venture capital). Injeksi modal Twitter pertama diperkirakan sebesar US$ 1-5 juta (Rp 10-50 miliar). Injeksi berikutnya sekitar US$ 22 juta (Rp 200 miliar) di tahun 2008. Injeksi selanjutnya didukung perusahaan modal ventura raksasa, seperti Benchmark Capital, Institutional Venture Partners dan Union Square Ventures, dengan dana sekitar US$ 35 juta (Rp 350 miliar).

Dari sini kita dapat melihat teknologi dan website yang populer sangat memerlukan dukungan finansial yang kuat. Tanpa dukungan finansial, relatif sulit membesarkan sebuah situs. Hal ini dapat dimengerti karena di masa awal, sebuah web relatif jarang bisa menghasilkan aliran dana positif (positive cash flow). Amazon, misalnya, hanya dapat menghasilkan aliran dana positif pada tahun ke-9. Situs besar rasanya mustahil dapat bertahan selama 9 tahun bila tidak didukung otot finansial yang kuat. Injeksi dana berkali-kali merupakan hal yang lumrah dalam bisnis website.


Pelajaran ketiga: Setiap bisnis harus dengan cerdas memanfaatkan momentum untuk mempopulerkan produknya.

Dalam bukunya Tipping Point, Malcolm Gladwell membeberkan bahwa sepatu Hush Puppies sudah sekarat pada 1994. Suatu waktu, beberapa hipster New York memakainya dan pengemar fashion lainnya langsung mengikutinya. Orang lain mengikutinya lagi dan lagi dan lagi sampai penjualan Hush Puppies melonjak 5.000%. Inilah yang dimaksud dengan tipping point, sebuah hal kecil yang menjadikan pertumbuhan eksponensial.

Twitter mendapatkan momentumnya pada festival South by Southwest, sebuah festival film, musik dan konferensi setiap musim semi di Austin, Texas, tahun 2007. Pihak Twitter dengan cerdiknya meletakkan dua televisi 60 inci untuk men-stream pesan Twitter. Twitter menjadi bahasa sehari-hari dalam event tersebut karena diperbincangkan oleh semua panelis dan pembicara.


Pelajaran keempat: Sebuah produk dapat digunakan lebih dari peruntukan awalnya.

Universitas Wina, Austria, menggunakan Twitter untuk mengirimkan umpan balik kepada pengajarnya. University of Texas at Dallas meluncurkan inisiatif The Twitter Experiment di mana Twitter digunakan dalam pengajaran. Argumen yang dipakai adalah karena Twitter hanya bisa memuat 140 karakter, mahasiswanya akan terpaksa mengekspresikan pendapatnya secara efektif.

Twitter juga banyak dipakai sesudah bencana alam untuk memungkinkan sesama saling berhubungan mengenai posisi masing-masing. Manfaat sampingan Twitter ini dirasakan korban kebakaran besar California, Oktober 2007. Palang Merah AS juga mulai menggunakan Twitter untuk memublikasikan informasi dari detik ke detik.

CNN 28 Oktober 2008 melaporkan bahwa setelah serangan bom Mumbai 2008, para pengguna Twitter mengumpulkan data korban dan golongan darah yang dibutuhkan. Seorang Tweeps (istilah untuk pengguna Twitter) sampai berkomentar bahwa ”Mumbai is not a city under attack as much as it is a social media experiment in action.” Ya, fungsi media sosial telah berkembang dari sekadar untuk gaul.

Dalam Pemilu Kanada 2008, Elizabeth May dan Stephane Dion menggunakan Twitter sebagai media untuk pengumpulan opini rakyat. CBC menggunakan hasil Twitter sebagai bukti bahwa rakyat meminta Dion mundur sebagai hasil dari pemilihan tersebut. Hal ini begitu menariknya sampai disebut sebagai “The Politics of Politics 2.0”.


Pelajaran kelima: Jangan abaikan teknologi media sosial sebagai alat “perang” yang baik dalam pemasaran.

Perusahaan-perusahaan ternama AS sudah banyak yang menggunakan Twitter. Sebutlah misalnya Dell, Comcast, Kodak dan GM. Perusahaan tersebut menganggap Twitter memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mendengarkan konsumennya sekaligus merespons keluhan mereka. Perusahaan pun menganggap Twitter lebih memberikan sentuhan personal dan hubungan one-on-one secara langsung dengan konsumen. Zappos, peritel online khusus sepatu, mendorong karyawannya menggunakan Zappos. Toni Hsieh, pendiri Zappos, mencoba menggunakan Twitter sebagai sarana membangun budaya perusahaan yang kokoh.

JetBlue, maskapai penerbangan di AS, menggunakan Twitter buat memberitahukan delay ataupun mengomunikasikan alasan di balik kebijakannya men-charge US$ 7 untuk selimut. Di tempat lain, Whole Foods, jaringan penjual makanan sehat di AS, menawarkan vocer US$ 25 untuk tweet terbaik (tweet of the day).


Pelajaran keenam: Suka atau tidak suka, konsumen pasti menggunakan media sosial. Pantau dan tangani keluhan konsumen di media sosial secara terus-menerus.

Di masa kini, bukan mustahil kalau konsumen yang merasa kecewa akan dengan gampang dan cepat mem-post pengalaman buruknya di media sosial begitu merasa kesal. Seorang konsumen Southwest Airlines dari Newshamshire menuju Philadelphia merasa kesal karena pesawatnya delay selama dua jam dan dia kehilangan tasnya. Pria tersebut memanfaatkan waktu luangnya karena delay tersebut dengan segera mem-post keluhannya di Twitter. Hebatnya, Southwest segera langsung merespons keluhannya itu. Maskapai tersebut langsung meminta maaf, menjelaskan bahwa delay tersebut diakibatkan cuaca dan meminta diberikan kesempatan untuk kedua kalinya. Pria tersebut pun mem-post pengalamannya di blog dan Southwest terus mengikutinya untuk menjamin kepuasannya.


Pelajaran ketujuh: Jangan pernah berpuas diri. Understand your customers and revolve continuously. Good is the enemy of Great!

Pada 30 April 2009, Twitter mengubah tampilan halamannya dengan menambahkan kolom pencari (search bar) dan popular topics — kemudian menjadi trending topic. Dengan demikian, Twitter telah memperluas dirinya menjadi mesin pencari paling update mengenai apa yang sedang terjadi dan apa yang dikatakan orang dari belahan dunia mana pun. Pada akhir 2009, Twitter menambahkan fitur “Twitter Lists” yang memungkinkan penggunanya mengikuti dan membalas daftar authors, bukan mengikuti author individu.

Nah, akankah Twitter mampu bertahan dalam persaingan media sosial? Waktulah yang akan menjawabnya. Yang pasti, tren media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan bisnis di era 2.0 ini. Sekarang, “Nge-tweet, dulu, yuk, Tweeps.” ***


sumber: CIO Society

3 Comments

  1. Iphin Cow says:

    kayaknya punya akun twitter untuk manusia sekarang hukumnya wajib ya? :)

  2. redaktur says:

    wajib sih enggak, tapi perlu hehe.. Kan bisa dimanfaatkan utntuk megembangkan bisnis & mendekatkan diri kepada customer..

  3. trims buat postingani ini, mampir juga ke blog saya ya.

Leave a Comment

Switch to our mobile site