Bisnis Kopi Itu Gampang Asalkan …


Beragam bentuk bisnis kopi terus tumbuh, dari yang bergaya tradisional, gaya ala mahasiswa hingga gaya premium. Sedangkan model bisnis pun berkembang dari yang mandiri hingga yang model franchise. Berlokasi di pusat perbelanjaan, perkantoran, area kampus hingga jalan-jalan tempat sebagian besar orang melewatkan malam.

Bagi wirausahawan  yang tertarik untuk berinvestasi di manisnya bisnis kedai kopi. Tak perlu khawatir, ada banyak peluang bagi Anda untuk merealisasikannya. Pasalnya, ada banyak peluang usaha kedai kopi yang menawarkan bentuk kerja sama baik itu berupa waralaba atau pun join venture. Berikut adalah nama beberapa jenis usaha kedai kopi yang menawarkan kerjasama waralaba:

It’s Coffee. Investasi untuk buka Kedai Kopi, modal awal yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 175 juta. Modal pembukaan It’s Coffee lebih besar: Rp 250 juta. dengan perincian, sekitar Rp 40 juta, digunakan untuk pengadaan perlengkapan, seperti mesin penggerus kopi, gelas, maupun oven microwave. Itu diluar tempat.

Black Canyon Coffee, asal Thailand waralaba kedai kopi asal thailand ini sangat cepat berkembang karena potensi pasar Indonesia yang sangat besar. Investasi mulai dari Rp 1,5 hingga 2 Milyar dan Rp 500 juta. Excelso Cafe, kedai kopi lokal asli indonesia besutan PT Kapal Api ini juga memberikan peluang investasi. Namun pihak excelso hanya buka peluang bagi Anda yang hanya tinggal diluar luar Jawa. Kopi Torabika yang membuka Kedai Kopi Torabika. Investasi Rp 10 juta, dengan peruntukan booth+peralatan, barang dagangan awal, training, selling kit.

Sedangkan yang mengambil model bisnis mandiri juga tidak kalah ide diantaranya  seperti Omah Ngopi Kopi Klotok, Kopi Blandongan, Bengawan Solo dan KopitiamOey. Masih banyak yang lain, namun beberapa kedai ini bisa menggambarkan differensiasi yang terjadi pada bisnis kedai kopi.

Omah Ngopi Kopi Klotok

Sebuah warung kopi dibuka di kawasan Secang, Jawa Tengah, tepatnya di Jalan Raya Magelang–- Semarang Km 11. Kini bisnis yang dibuka pada September 2008 itu mulai menjadi tempat tujuan penggemar wisata kuliner di Kota Semarang dan sekitarnya. Kawasan Secang yang terletak di lereng Gunung Sumbing memang terkenal berhawa sejuk. Dengan modal Rp100 juta, Pram dan Yani––panggilan akrab keduanya–– menjadikan kawasan tersebut sebagai inspirasi usaha kuliner tradisional. Kopi klotok dan nasi sayur lodeh menjadi menu utama yang ditawarkan.

Menggunakan biji kopi lokal dari Lampung dan cepu dan pengolahan tradisional. Menariknya, gula yang dipakai di Omah Ngopi hanya gula aren dan gula batu yang ditempatkan pada satu toples kaca bermotif lama. Pengunjung dipersilakan memilih sendiri gula tambahan itu sesuai dengan selera. Dengan cara-cara tradisional itu, rasa kopi dari kopi klotok sangatlah khas.

Kopi Blandongan

Sebuah tempat dimana orang-orang pesisir di pantai Jawa Timur  menghabiskan waktu untuk ngopi dan sambil menikmati rokok kretek  setelah seharian bekerja. Ide inilah yang ia bawa ke Jogja  dimana pengunjung bisa bebas duduk, rebahan, sambil main kartu dan catur di warung kopinya yang buka non stop. Sebagai pemilik ia tidak akan pernah tega mengusir tamunya walau seharian nongkrong di warungnya. Badrun menjual kopinya sesuai dengan kantung mahasiswa yang terbatas uang sakunya dengan harga 1700 per cangkir. Kopi Blandongan menjadi fenomena menarik karena sebuah ide orisinal : murah, santai, bersahaja, dan tentu dengan modal beberapa juta rupiah saja saat Badrun memulai bisnisnya.

Bengawan Solo

Coba lihat juga Bengawan Solo, warung kopi yang bisa kita temukan di mall2 Jakarta. Mereka tidak perlu menyewa ruang besar untuk cafe-nya, cukup dengan konsep island, atau sepetak ruang yang hanya diisi beberapa kursi saja. Mesin kopinya menggunakan merek Jura yang serba otomatis sehingga cappuccino bisa selalu konsisten tanpa harus memiliki barista yang harus terus dilatih secara khusus.

Kopitiam Oey

Bondan Winarno buka kedai kopi. Menu utama yang disajikan tentulah kopi dan beragam variannya. Interior kedai kopi mencerminkan masa lampau. Lampu remang-remang di dalam beberapa burung sangkar kecil, yang ditutup kain merah menyerupai lentera China. Jejeran meja dan kursi antik terbuat dari kayu.

Sajian andalan KO adalah Kopi Soesoe Indotjina, Kopi Hitam-Kental Italia, Sego Ireng, Lontong Tjap Gomeh, Gado-gado Bonbin, Sate Ayam Ponorogo. Harganya, Pisang Goreng ala Mode (tiga buah) Rp 17 ribu, Loempia Oedang Goenong Sari (tiga buah) Rp 17 ribu, dan telur setengah matang Rp 9 ribu. Menurut Bondan, sejumlah sajian tersebut sengaja dipilih ala kedai kopi karena ringan dan bisa untuk teman mengobro

Cafe bukanlah warung yang lalu lintas pengunjungnya harus tinggi, tapi sebuah tempat dimana interaksi pengunjung bisa lebih intens dan saya bisa merasakan aura itu saat pertama kali menginjakan kaki.

Jadi bisnis kopi itu gampang kalau berani mencoba yang beda, terus memanjakan imajinasi konsumen dan tidak perlu seperti Starbuck. Jangan pernah meniru.

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash

Switch to our mobile site