Berkah Usaha Kaos Dakwah
Anda mungkin tergelitik dengan banyolan khas yang tertulis pada kaos buatan Joger, Dagadu Yogya, atau gambar dan tulisan ala C59. Nah kali ini, dari kota Kembang, muncul lagi pendatang terbaru di bisnis kaos. Bedanya, tulisan dan gambar pada produk mereka menggunakan slogan dakwah.
“Dengan memproduksi kaos, kami ingin bisa mewarnai dan memberi aura positif,” ujar Lucky Rahmat, Manajer PT Diplus Indonesia, sang produsen kaos religi. Bisnis kaos dakwah ini bermula dari pertemuan rutin Ihaqi, kelompok training manajemen berbasis religi dengan anggota sekitar 6.000 orang. Dari pertemuan itulah tercetus ide membuat merchandise.
Erick, pemilik PT Diplus, memutuskan mencetak kaos bernada dakwah. Modal awalnya Rp 10 juta. Awalnya, Ihaqi hanya memproduksi 100 kaos. Proses pembuatannya pun masih menumpang pada pabrik kaos kenalan Erick. Karena menuai respon bagus, Erick memproduksi lebih banyak lagi.
Dari hanya kaos, ia mulai membuat pin, topi, dan tas kecil tempat mukena dan Alquran. Masing-masing produk selalu bergambar dan bertuliskan pesan-pesan religi. Misalnya bertuliskan “Senyum itu Ibadah”, “Muslim Ritual Pray”, dan lain-lain. Saat ini, papar Lucky, perusahaannya memproduksi 6.000 lembar kaos setiap dua bulan. Adapun produksi pin sekitar 5.000 buah per bulan, topi dengan 3 model sekitar 900 buah per bulan, dan tas sekitar 200 buah setiap bulan. Semua merchandise tersebut dipajang di gerai Ihaqi yang terletak di Jl. Trunojoyo, Bandung.
Lucky bilang, dalam sebulan bisa melego 2.500 lembar kaos. Sedangkan penjualan aksesori lain, seperti pin sebanyak 2.000 unit per bulan, topi 100 buah dan tas 100 buah tas per bulan. Dari penjualan itu, Lucky meraup omzet Rp 150 juta sebulan. Sekitar 20%-nya masuk kantongnya sebagai keuntungan.
Andalkan Agen untuk Gaet Pembeli
Bagi Lucky, selain prospek bisnis ini cukup bagus juga bisa bernilai ibadah. Meski tak bisa menembus sekat agama, Lucky menyebut peluangnya besar karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim. Dari mutu produk, kata Lucky, Ihaqi membidik segmen kelas menengah.
“Kami tak bisa main terlalu ke bawah, karena bahan baku yang kami gunakan juga bukan sembarangan,” katanya, berpromosi. Sementara kelas atas, belum tentu suka dengan produk ini, karena biasanya mereka lebih memilih kaos branded.
Kata Lucky, pada hajatan Ina Craft di Jakarta April lalu, produk Ihaqi ternyata banyak diminati. Bahkan langsung mendapat tiga agen yang siap membeli produk Ihaqi dalam jumlah besar, yakni dari Bogor, Cirebon, dan Balikpapan. Mereka ini umumnya meminati kaos dan pin.
Hingga berakhirnya Ina Craft, Ihaqi mampu menjual hingga 1.200 lembar kaos. Saat ini, Lucky sedang membentuk komunitas agen Ihaqi. Dia berniat merekrut agen dari sejak tingkatan SMP, SMU, Perguruan Tinggi, hingga ibu-ibu pengajian sebagai agen. Sebab, Lucky menilai, pemasaran lewat agenlah yang paling cepat.
Jika agen sudah mencapai 50 orang, Ihaqi memberikan pelatihan entrepreneurship gratis.
More Info : http://www.ihaqishop.com/

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed
blognya keren . kunjungi blogku juga ya