Bisnis Vanili yang Harum


Data Food & Agriculture Organization (FAO) tahun 2007 menunjukkan, Indonesia adalah produsen vanili terbesar dunia. Total produksinya mencapai 3.700 ton. Madagaskar menjadi produsen terbesar kedua dengan total produksi 2.800 ton.

Namun, produksi Indonesia terus menurun dan kini negara di benua Afrika itulah yang jadi produsen vanili terbesar di dunia. Apa penyebabnya? Yaitu karena kualitas vanili Indonesia tidak seragam disebabkan proses pengeringan yang jelek. Sebaliknya, vanili Madagaskar memiliki kualitas yang lebih seragam. Sebagai pembanding, kini harga vanili premium yang berasal dari Madagaskar di Amadeus Vanilla Beans US$ 59,99 per pon, ata. Sedangkan harga vanili Indonesia US$ 38,99 per pon.

Vanili merupakan tanaman sejenis anggrek. Petani Indonesia lebih banyak membudidayakan varietas vanili planifolia. Sebelum mulai menanam vanili, petani harus memperhatikan lingkungan tempat budidaya. Vanili, yang habitat aslinya di hutan ini, tanaman ini hanya butuh 50% – 55% sinar matahari. Lebih dari itu, daun vanili akan menguning dan tentu saja berpengaruh pada hasil panennya.

Penyesuaian lingkungan bisa dilakukan dengan menanam pohon peneduh, enam bulan sebelum penanaman vanili. Langkah berikutnya, mengolah tanah tempat penanaman vanili yang membutuhkan tanah lempung dan humus untuk tumbuh subur. Demi menunjang pertumbuhan, tanah perlu digamburkan dan dipupuk dulu. Tahun pertama merupakan masa kritis vanili. Petani harus memperhatikan perambatan tanaman. Agar lebih baik, petani bisa memasang media perambatan vanili. Selain itu, petani harus menyingkirkan bekicot yang suka memakan vanili.

Pemupukan rutin berlangsung dua kali per tahun. “Satu tanaman vanili butuh lima kilogram (kg) pupuk,” kata Agus Rambada Setiadi, pemilik perkebunan vanili Villa Domba di Bandung. Dalam satu hektare lahan, dia mengatakan, ada 3.000 tanaman vanili. Jadi, dalam setahun perlu pupuk kandang hingga 30 ton. Dengan asumsi harga pupuk kandang Rp 1.000 per kg, ongkos pupuk dalam setahun Rp 30 juta. “Pemupukan ini merupakan biaya terbesar dalam menanam vanili,” katanya.

Sekilas tentang tanaman vanili

Vanili (Vanilla planifolia) adalah tanaman penghasil bubuk vanili yang biasa dijadikan pengharum makanan. Bubuk ini dihasilkan dari buahnya yang berbentuk polong. Tanaman vanili dikenal pertama kali oleh orang-orang Indian di Meksiko, Negara asal tanaman tersebut. Nama daerah dari vanili adalah panili atau perneli.

Di pasar internasional, harga komoditas ini masih lumayan tinggi. Mari kita tengok patokan harga dari perusahaan penjual vanili dari Amerika Serikat, Amadeus Vanilla Beans. Perusahaan yang menjual vanili dari berbagai negara ini mematok harga vanili asal Indonesia sebesar US$ 38,99 per pon. Jumlahnya setara dengan Rp 363.607 per pon atau Rp 797.735 per kilogram (kg).

Tentu saja, ini adalah harga vanili kualitas baik. Sementara penentu kualitas vanili ada beberapa faktor. Misalnya, faktor bibit vanili, teknik budidaya, dan teknik pengolahan pasca panen. Nur Aziz, pemilik Zahra Agro di Purworejo, Jawa Tengah, mengatakan, harga vanili Indonesia jatuh karena pengolahan pasca panen yang salah. “Tidak ada yang mengarahkan cara pengolahan pasca panen yang benar,” kata dia.

Mestinya, dengan pengolahan yang benar, harga jual vanili bisa lebih tinggi. Tengok saja hasil dari perkebunan Villa Domba di Bandung, Jawa Barat, yang sudah 10 tahun melakukan budidaya vanili. Mereka menjual 95% produk vanili keringnya ke pasar ekspor, dan bisa mendapat harga yang baik karena pengolahan pasca panen yang pas.

Misalnya, untuk vanili paling kecil dengan panjang antara 15-17 sentimeter (cm), harganya minimal US$ 50 per kg. Adapun harga vanili paling besar dengan ukuran lebih dari 20 cm mencapai US$ 100 per kg. “Salah satu penyebab kehancuran vanili Indonesia karena kualitasnya tidak seragam,” kata Agus Ramada Setiadi, pemilik Villa Domba.

Akibat harga jual yang hancur, para petani rakyat pesimistis membudidayakan tanaman ini. “Saya ingin petani bisa merasakan bahwa vanili ini masih punya aji, tapi sulit sekali,” ujar Aziz. Apalagi, pernah terjadi, ada orang yang membeli vanili petani rakyat ini dengan harga sangat rendah. Akhirnya penduduk di sekitar Zahra Agro memangkas habis tanaman vanili mereka atau tidak menyilangkannya sehingga tidak berbuah.

Ternyata, Agus pernah mengalami kejadian serupa. Dia pernah menemui petani yang menjual vanili basah ke bandar dengan harga hanya Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kg. “Kami sendiri membeli vanili basah Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per kg. Jadi harga kami lebih baik hingga 10 kali lipat,” kata dia.

Informasi tentang harga yang aduhai ini belum banyak menyebar ke telinga para petani. Sehingga, masih banyak yang enggan membudidayakan vanili. Villa Domba bisa memproduksi 1-1,5 ton vanili kering setiap panen. Jadi, total penjualan antara US$ 50.000-US$ 75.000 untuk vanili berukuran kecil, berkisar pada 500 juta hingga 700 juta rupiah.

Dalam pengembangan budidaya vanili pun, memang tidak semudah dan semulus apa yang telah digambarkan Entis Sutisna. Beberapa faktor yang bisa menghambat produktivitas hasil dari budidaya vanili itu pun, tak pelak membayangi para petaninya. Di antaranya, sifat tanaman vanili biasanya tidak bisa bertahan hidup dan produktif melebihi tiga kali panen. Mengenai peluang pasarnya produk vanili masih sangat terbuka luas. Bahkan  akhir-akhir ini pengusaha dari Jepang yang menginginkan menjadi pembeli tetap.

1 Comment

  1. gunawan says:

    di semarang, pengumpulnya dimana yah??? saya mau jual tuh vanili simpanan 100kgs an, dan harganya berapa skrg hub/sms 08156567719, 087832345690

Leave a Comment

Switch to our mobile site