Pasca Lebaran, Penjual Bunga Ziarah Kubur Panen
Ziarah kubur merupakan kegiatan mengunjungi makam dengan niat mendoakan para penghuni kubur serta mengambil pelajaran dari keadaan mereka (al Mathla’ ‘alaa Abwabil Fiqhi 1/119; Asy Syamilah). Waktu yang biasa dilakukannya ziarah kubur yaitu sebelum memasuki bulan Ramadhan dan setelah lebaran.
Seperti yang terjadi di beberapa pemakaman di Jakarta dan sekitarnya, setelah hari raya Idul Fitri, ribuan warga melakukan ziarah ke pemakaman sanak saudara. Ziarah kubur ini membuat para pedagang bunga dadakan ikut mendulang rezeki.
Erman (42), seorang pedagang bunga di depan pintu masuk TPU mengatakan, sejak kemarin ia mulai menjual bunga kepada para warga yang hendak menabur bunga di atas pusara sanak keluarganya.
Erman menawarkan satu kantong plastik kecil bunga seharga Rp 3.000, yang terdiri dari potongan bunga mawar, kenanga, dan melati. Diperkirakan, dalam sehari Eman dapat menjual sekitar 30 kantong bunga. Keuntungan Eman masih ditambah hasil penjualan dari air mawar yang ditawarkan kepada peziarah yang harganya Rp 5.000 per botol. “Ini kan setaon (setahun) sekali bang,” kata Erman, pria berkumis tebal itu.
Perlu diketahui bahwa menjenguk ke kuburan pernah diharamkan oleh Rasulullah, namun selang beberapa waktu beliau membolehkannya. Ya, takziah ke makam merupakan perbuatan yang baik. Beruntung mereka masih ingat saudara, keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Indah sekali bila takziah tahunan ini dikemas dalam bingkai dzikrul maut. Rasulullah dalam beberapa riwayat beliau menganjurkan ummatnya untuk memperbanyak mengingat mati. Kullu nasfin dzaiqotul maut…
Adapun tradisi menabur bunga, beberapa kalangan menilai itu merupakan tradisi jawa. Para ulama pun ada yang menilai sunah juga ada pula yang menilai bid’ah. Bagi yang menilai menabur bunga di atas makam diperkenankan mendasarkan pada riwayat saat Rasulullah memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya (Riwayat Imam Syafi’i, Nailul Authar : 4/84).
Dalam riwayat lain Rasulullah meletakkan pelepah kurma segar yang dibelah dua di atas dua buah kuburan lalu berkata “Semoga sang penghuni kubur diringankan dari siksaannya selama pelepah ini belum kering”.
Meskipun menaburkan bunga di atas kuburan tidak ada dalil yang jelas, namun ada kemiripan dengan tindakan Rasulullah tersebut. Tujuannya mungkin semoga tumbuh-tumbuhan yang segar tersebut selama belum kering bisa mendoakan penghuni kubur, mengingat apa yang kita yakini bahwa segala sesuatu yang hidup di dunia ini senantiasa melantunkan tasbih kepada Allah swt termasuk tumbuh-tumbuhan yang hijau dan segar.
Hal ini senafas dengan ayat Al-Qur’an QS At-Taghabun ayat 1:
يُسَبِّحُ لِلّهِ مَا فِي السَّموَاتِ وَ مَا فِي اْلأَرْضِ
Bahwa Semua makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan, bertasbih kepada Allah SWT.
Dalil kedua yakni hadits Ibnu Hibban dari Abu Hurairah yang mengatakan: “Kami berjalan bersama Nabi melewati dua makam, lalu beliau berdiri di atas makam itu, kami pun ikut berdiri. Tiba-tiba beliau meyingsingkan lengan bajunya, kami pun bertanya: ‘Ada apa ya Rasul?’”
“Beliau menjawab: ‘Apakah kau tidak mendengar?’ Kami menjawab heran: Tidak, ada apa ya Nabi? Beliau pun menerangkan: ‘Dua lelaki sedang disiksa di dalam kuburnya dengan siksa yang pedih dan hina.’ Kami pun bertanya lagi: Kenapa bisa begitu ya RasuI? Beliau menjelaskan: ‘Yang satu, tidak bersih kalau membasuh bekas kencing; dan satunya lagi suka mencaci orang lain dan suka mengadu domba.’
“Rasulullah lalu mengambil dua pelapah kurma, diletakkan di atas kubur dua lelaki tadi. Kami kembali bertanya Apa gunanya ya Rasul? Beliau menjawab: ‘Gunanya untuk meringankan siksa mereka berdua selagi masih basah.’” Demikian seperti dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin Juz II hlm 119.
Sumber: nu.or.id & pesantrenvirtual.com
Gambar: pesatnews.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed