Imbas Positif dan Negatif Pembangunan Jembatan Suramadu


Beroperasinya jembatan yang menghubungkan Surabaya-Madura (Suramadu) sejak 4 bulan yang lalu diyakini dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Madura.

Hal itu setidaknya terlihat dari mulai bermunculannya pusat keramaian dan bisnis sektor riil di sekitar jembatan terpanjang di Asia Tenggara itu.

Dari pantauan, pasca pemberlakukan tarif resmi jalan tol Suramadu tepat pukul 00.00 WIB, dini hari tadi di sekitaran Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Bangkalan, banyak bermunculan usaha warga. Misalnya, para penjual bensin eceran, jasa tambal ban, serta warung.

Di antaranya, H Nasir yang menjual bensin eceran dan tambal ban. “Kita berharap bisa membuka usaha di sekitar akses Suramadu ini. Di kaki jembatan banyak pusat keramaian dan berdiri warung-warung,” paparnya di Bangkalan.

Dia berharap kehadiran Jembatan Suramadu ini dapat membawa berkah bagi warga Madura. Laju perekonomian di Madura dapat berjalan cepat, sehingga kesejahteraan warga meningkat.

Humaidi, warga Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, mengharapkan investor bisa melirik Madura menyusul beroperasinya Jembatan Suramadu. “Adanya investor yang masuk dapat mempercepat kemajuan dan kesejahteraan warga Madura,” imbuhnya.

Dia juga bersyukur dengan suksesnya pembangunan Jembatan Suramadu karena banyak berdampak positif. “Ya, sangat bersyukur terkait keberadaan Jembatan Suramadu karena bisa mengurangi jarak tempuh dari Surabaya ke Maduara juga sebaliknya,” papar Humaidi.

Selain itu, kata dia, tarif tol yang diberlakukan jauh lebih murah dibanding dengan biaya perjalanan menggunakan jasa kapal feri.

Suramadu Dongkrak Hunian Hotel

Tingkat hunian kamar atau okupansi hotel-hotel berbintang di Surabaya naik signifikan seiring musim liburan sekolah yang berakhir kemarin.

Obyek wisata baru, Jembatan Suramadu, juga turut memberikan kontribusi tambahan okupansi. “Pasca operasional Jembatan Suramadu, hotel-hotel di Surabaya seolah kebanjiran tamu. Ini karena besarnya keinginan mereka mengunjungi obyek wisata baru yang merupakan jembatan terpanjang se-Asia Tenggara, berukuran 5,438 kilometer,” ungkap General Manager Surabaya Plaza Hotel Yusak Anshori, kemarin.

Lonjakan okupansi tergambar pada Juni lalu yang tercatat lebih dari 73 persen.Angka ini di atas rata-rata okupansi tahun lalu yang hanya 69,5 persen. Public Relation Hotel Sheraton Surabaya Etty Ariaty Soraya menyebutkan, selama masa liburan okupansi meningkat menjadi sekitar 60 persen. “Pada periode sama tahun lalu, okupansi kami hanya sekitar 55 persen,” ungkapnya.

Senada dengan Yusak, Etty Soraya menyatakan kenaikan yang terjadi kali ini dipicu oleh masa liburan sekolah dan Jembatan Suramadu. “Momen liburan menjadi berkah bagi pebisnis hotel di Surabaya. Apalagi dengan adanya Suramadu, kini Surabaya semakin diperhitungkan menjadi kota tujuan wisata. Bukan hanya sebagai kota yang menyajikan wisata belanja,” tandasnya.

General Manager Sahid Hotel Surabaya Erni Sulistyowati menambahkan, okupansinya selama masa liburan menembus 90 persen. Selain karena tingginya animo para tamu hotel mengunjungi Suramadu, tinggi okupansi kali ini juga disebabkan banyak tamu yang mengadakan acara Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

“Untuk MICE, kenaikannya sudah terasa sejak April lalu. Saat itu pendapatan dari MICE saja telah naik 30 persen,” katanya. Sekarang sumbangan pendapatan kamar ke total omzet hotel ini mencapai 60 persen dan 40 persen-nya dari MICE. Dilihat dari segmentasi tamu di hotelnya, sekitar 40 persen datang dari tamu korporasi, 35 persen dari kalangan pemerintah, dan sisanya sebesar 25 persen tamu yang dibawa oleh biro perjalanan.

Jembatan Suramadu membawa berkah positif pada beberapa bidang usaha namun sebaliknya bagi bisnis angkutan penyeberangan. Imbas dari pembangunan Suramadu, Pengusaha Angkutan Kapal Rugi Rp20 Juta/Hari.

Jembatan Suramadu ternyata membuat pengusaha angkutan kapal terancam gulung tikar. Sejak diresmikan pada 10 Juni 2009 silam, jembatan penghubung Surabaya dan Madura ini membuat angkutan kapal menjadi sepi. Bahkan sejumlah pengusaha kapal banyak yang mengurangi armadanya agar kerugian tidak terlalu besar.

Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (Gapasdap), Jatim, Khoiri Soetomo, mengaku, sejak adanya jembatan itu pengusaha kapal seolah-olah dilupakan. Bahkan pihak pemerintah sendiri tidak pernah memberikan solusi.

“Kita ini ibarat istri tua, sejak Jembatan Suramadu itu ada, kita dilupakan oleh pemerintah,” kata Khoiri, di Surabaya, Minggu (14/11/2010).

Ia juga mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan, maka sejumlah pengusaha angkutan kapal ini bakal bangkrut. Sebab, hingga saat ini para pengusaha kapal ini merugi rata-rata Rp20 Juta per hari. Jumlah tersebut, harus tambal sulam dengan pengalihan sejumlah armada yang sudah tidak melayani jalur penyebrangan di pelabuhan Ujung-Kamal.

Menurut Khoiri, di pelabuhan Ujung-Kamal hingga saat ini hanya ada enam unit kapal Feri dan dua cadangan yang masih beroprasi. Itupun , kondisinya sudah kembang kempis. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang layak demi pelayanan kepada penumpang. Sebab, dengan enam unit, penumpang tidak berlama-lama untuk menunggu rolling kapal.

“Jika jumlah itu kami kurangi, maka penumpang harus menunggu berjam-jam, saat ini hanya menunggu 24 menit saja,” jelas pria yang berkantor di Jalan Kanginan 3-5 Surabaya.

Dirinya pun berharap, upaya pemerintah untuk menyubsidi kerugian para pengusaha ini. Jika tidak bisa, maka harus ada tindakan tegas, agar para pengusaha ini tidak terkatung-katung.

“Jika kami sudah tidak butuhkan lagi, maka akan kami tutup usaha ini dan akan mengalihkan ke yang lain, daripada harus menanggung kerugian terus menerus,” tegasnya


Sumber berita : Okezone

Sumber gambar : indonesia.newsbeet.com

Leave a Comment

Switch to our mobile site