Promosi Kakao Dibarengi Identitas Geografis
Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, sudah saatnya Indonesia memperkenalkan identitas lokasiproduksi kakao yang spesifik untuk memromosikan komoditas tersebut ke mancanegara.
“Yang juga penting dikembangkan adalah identitas lokasi produk kakao kita. Kalau pada kopi kita punya kopi Bali, kopi Mandailing, dan kopi Toraja selanjutnya kita bisa mengembangkan penggunaan istilah kakao Jawa, kakao Mamuju, dan kakao Sumatra sebagai identitas produk cokelat kita,” kata Wamentan seusai menghadiri peresmian BT Chocolate Academy di Tangerang, Banten, Senin (30/5).
Identitas geografis yang lebih spesifik tersebut, menurut dia, akan memberikan tambahan nilai pada produk kakao asal Indonesia di pasar internasional. Sebagai salah satu negara produsen kakao besar dunia, ia melanjutkan, Indonesia akan bisa mengambil lebih banyak keuntungan dari ekspor komoditas tersebut dengan pencitraan kualitas dan keunikan produk kakao berdasar identitas geografis.
Hingga saat ini, dengan produksi biji kakao antara 600.000 ton sampai 700.000 ton per tahun, Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Ghana dan Pantai Gading.
Menurut Wamentan, sekitar 65 persen produksi biji kakao nasional dihasilkan oleh perkebunan yang berada di wilayah Sulawesi dan sisanya tersebar di beberapa daerah seperti Bali, Lampung dan Sumatera Selatan.
“Dari keseluruhan produksi biji kakao, 80 persen diantaranya diekspor dan sisanya diolah di dalam negeri. Selanjutnya proporsi biji kakao yang diekspor dan diolah di dalam negeri ditargetkan bisa berimbang,” katanya.
Pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan industri hilir kakao dengan menerapkan kebijakan pengenaan bea keluar dalam ekspor biji kakao sejak 1 April 2010.
Menurut Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar penerapan kebijakan tersebut telah berdampak terhadap pertumbuhan industri hilir kakao dalam negeri.
Hal senada diungkapkan pula oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia Piter Jasman. Ia mengatakan produksi industri pengolahan kakao yang pada 2010 sebanyak 150 ribu ton tahun ini akan meningkat menjadi 280 ribu ton.
“Dan dari mesin-mesin yang akan masuk ke beberapa daerah seperti Pasuruan, Bandung dan Banten, tahun 2012 produksi bisa naik lagi menjadi 400 ribu ton,” katanya.
Sumber : mediaindonesia.co.id

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed