Brand Rejuvenation, Sekarang atau Nanti?


Personifikasi perjalanan hidup sebuah brand dapat diibaratkan selayaknya seperti manusia yang dilahirkan. Terjadi berbagai tahapan yang dinamakan introduction, growth, mature dan decline.

Seperti manusia yang baru saja dilahirkan, bertumbuh dari bayi hingga ke masa puncak kinerja hidupnya yang kemudian akan masuk pada usia lanjut. Tetapi, tentu saja ada perbedaan di antara keduanya. Proses penuaan suatu brand masih dapat dihindari,lain halnya seperti manusia yang terjadi atas kehendak pencipta-Nya dan tidak ada yang dapat melawannya. Proses penuaan itu sendiri sebenarnya alami, termasuk proses penuaan sebuah brand.

Sebuah brand dapat dikatakan mengalami penuaan dikarenakan adanya dimensi lain di sekelilingnya yang berubah yang biasa kita sebut dengan zaman. Zaman berubah, termasuk manusia di dalamnya, sistem dan segala paradigma ikut berubah. Dan sebuah brand akan menua lalu lumpuh apabila ia tidak ikut berubah. Tidak hanya pada lingkup branding, istilah rejuvenation sering kita dengar.

Artinya adalah sebuah pembaharuan, peremajaan. Brand yang tidak memiliki fondasi yang matang dan kuat akan rentan mengalami penuaan.Salah satu contohnya adalah Lux (produk sabun kecantikan). Produk sabun kecantikan satu ini telah ada sejak zaman dahulu dengan mengusung model-model atau brand ambassador-nya yang merupakan wanita-wanita tercantik pada zamannya.

Hingga saat ini pun konsep yang dipergunakan juga masih tetap sama, yang berbeda adalah bagaimana cara menampilkan produk kecantikan itu sesuai dengan kondisi pasar saat ini.Fondasi brand Lux yang kuat ini dengan mudah telah melekat di benak para pelanggannya. Contoh lainnya adalah biskuit Roma, yang mengusung kekuatan brand-nya dengan pesan “dari masa ke masa” sehingga masyarakat selalu tebersit bahwa biskuit Roma memang telah eksis dari dahulu hingga saat ini.

Kemudian, bagaimanakah cara sebuah brand dinyatakan tepat dalam melakukan suatu proses brand rejuvenation? Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan assesment/ penilaian terhadap brand-nya. Melalui proses tersebut, dapat dilakukan analisa terhadap kesehatan brand tersebut dan permasalahan yang sedang dihadapi.

Apabila hasil daripada assesment tersebut menyatakan adanya penurunan sales/penjualan (yang mungkin dikarenakan ketatnya persaingan dengan para pemain-pemain baru) serta loyalitas pelanggan yang mulai luntur, maka diperlukannya proses peremajaan brand tersebut.

Dapat kita ambil salah satu contoh dari produk pembalut wanita “Softex” pada zaman dulu yang merupakan top brand. Masihkah anda mengingat bentuk packaging design-nya dengan sosok wanita yang berdiri di tengah rerumputan hijau? Bentuk packaging yang pada saat itu melekat di benak masyarakat/ pelanggannya menjadi heritage saat ini.

Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan kompetitor yang sangat berarti serta siklus perubahan kehidupan masyarakatnya yaitu masuknya usia menopause para pelanggan yang loyal sehingga tidak perlu menggunakan produk tersebut lagi. Perubahan target pelanggan inilah yang menjadi salah satu kunci di mana diperlukan adanya peremajaan brand.

Ditambah lagi semakin banyaknya pesaing-pesaing baru yang masuk dengan visualisasi desain yang muda dan fresh,yang tentu saja generasi-generasi muda akan lebih memilih brand tersebut karena lebih mencerminkan personalitasnya. Hal kedua yang perlu dilakukan dalam melakukan peremajaan brand adalah dengan melindungi brand tersebut dengan menambahkan dan/atau menciptakan nilai tambah yang baru dan yang lebih relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Hal ini dikarenakan adanya fenomena pola hidup manusia yang berubah-ubah dari generasi ke generasi, sehingga para brand owner harus terus aktif dalam memberikan nilai-nilai baru terhadap produknya tersebut. Kedua langkah di atas perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Karena apabila para brand owner hanya melakukannya secara setengah-setengah,target masyarakat yang dituju juga tidak dapat merasakan akan adanya peremajaan brand yang telah dilakukan tersebut yang pada akhirnya dapat mengakibatkan persepsi masyarakat terhadap proses peremajaan brand tersebut menjadi kabur.

Kunci terpenting yang perlu diingat oleh para brand owner adalah jangan pernah merasa puas dengan hasil yang telah dicapai oleh produk atau brand-nya tersebut karena perubahan siklus hidup masyarakat yang berubah-ubah serta persaingan yang semakin ketat dapat mengubah segalanya dengan mudah. Kini, tibalah saatnya untuk menilai, inikah saatnya brand Anda melalui proses rejuvenation?

BLENDA ARDELIA
Associate Client Manager DM IDHOLLAND



Sumber : economy.okezone.com

Sumber gambar : antik-otara.blogspot.com

Leave a Comment

Switch to our mobile site