Kertas Leces Diminta Fokus pada Produk Berdaya Saing
Badan usaha milik negara (BUMN) produsen kertas, PT Kertas Leces, didorong untuk fokus mengembangkan produk yang dinilai mampu bersaing dengan pasar. “Kami minta perusahaan hanya memproduksi tissue MG dan kertas sekuriti untuk sementara. Kedua produk itu yang mampu bersaing di pasar,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, di kantor Kementerian BUMN.
Untuk produksi kedua produk tersebut, perusahaan bisa memperoleh listrik yang diperoleh dari hasil steam boiler batubara yang saat ini sedang dibangun perusahaan. Boiler itu sendiri memiliki kapasitas sebesar 240 ton dengan pembangunan yang sudah mencapai sekitar 90 persen.
Menurut Dahlan, produksi kedua jenis kertas itu hanya butuh steam sekitar 10 ton, yang nantinya akan menggerakkan turbin pembangkit listrik. Sisanya yang 230 ton bisa digunakan untuk menghasilkan listrik sekitar 60 MW. Untuk bisa menghasilkan tambahan bagi perusahaan, sekitar 30-40 MW di antaranya diusulkan untuk dijual kepada PT Perusahaan Listrik Negara.
Bahan bakunya juga demikian. Karena hanya membuat dua produk, berarti perusahaan akan kelebihan bahan baku yang nantinya dapat dijual kembali. Melalui berbagai langkah itu, diharapkan perusahaan memperoleh pendapatan listrik sekitar Rp 100 miliar, pendapatan jual bahan baku Rp 100 miliar, pendapatan jual kertas tisu Rp 100 miliar, dan kertas sekuriti Rp 50-60 miliar setiap tahunnya.
Di sekitar lokasi perusahaan juga diusulkan pendirian pabrik gula yang akan ditangani oleh salah satu PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Selain untuk mendorong pencapaian target produksi gula nasional, melalui kerjasama tersebut perusahaan berpeluang untuk lebih mudah memperoleh ampas tebu untuk bahan baku ataupun menjual kelebihan listrik yang dihasilkan oleh boiler batubara.
Dengan itu, perusahaan diharapkan tidak lagi mengandalkan suntikan modal melalui penyertaan modal negara (PMN) ataupun penyehatan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Menurut Dahlan, mulai saat ini PPA akan difokuskan untuk menangani aset-aset yang bernilai besar ataupun penyehatan BUMN industri strategis. “Jadi PPA tidak perlu kasih uang ke Kertas Leces,” lanjut Dahlan.
Seperti diketahui, Kertas Leces terus mengalami kerugian dalam beberapa tahun terakhir. Kerugian perusahaan pada 2008 sebesar Rp 49 miliar, pada 2009 Rp 53 miliar, dan pada 2010 (anaudited) Rp 78 miliar. Dalam beberapa kesempatan, Direktur Utama Kertas Leces Martoyo Sugandi, sempat mengatakan kerugian tersebut disebabkan struktur keuangan perusahaan yang tidak sehat.
Menurutnya, saat ini perusahaan memiliki utang kepada pemerintah berupa RDI dan DDI sekitar Rp 461 miliar. Akibatnya bank tidak bersedia memberikan pendanaan kepada perusahaan sejak 2004. Namun begitu, pada tahun ini perusahaan ditargetkan menjalankan kembali aktifitas produksinya karena sejak beberapa bulan lalu berhenti beroperasi.
Pada 2011-2012, perusahaan akan fokus merestrukturisasi keuangan dan operasionalnya. Sementara, pada 2013-2015 perusahaan akan melakukan transformasi bisnis. Jadi tidak hanya menjual kertas, perusahaan juga akan menjual bahan baku berupa ampas tebu. Perusahaan juga membangun boiler batubara untuk menghemat biaya energi yang selama ini dikeluarkan perusahaan.
“Kami memiliki biaya energi yang cukup tinggi dibandingkan kompetitor. Kalau kompetitor kami biayanya sekitar US$ 80 per ton produk, sementara kami US$ 160 per ton produk. Dengan pembangunan boiler, maka biaya energi diharapkan turun menjadi US$ 80 per ton produk,” katanya.
Perusahaan sendiri sempat mengusulkan mendapat PMN sebesar Rp 440 miliar yang akan digunakan untuk merestrukturisasi perusahaan. Dalam rapat kerja Kementerian BUMN bersama Komisi VI DPR akhir bulan lalu, akhirnya disepakati pengalokasian PMN bagi Kertas Leces sebesar Rp 200 miliar untuk tahun depan.
Namun begitu, Pemerintah masih akan mengkaji kembali program restrukturisasi yang diajukan oleh manajemen Kertas Leces. “Kami akan lihat dulu, belum tentu uang tersebut bisa cair kalau program direksi tidak meyakinkan. Kalau Kertas Leces, saya melihat tidak solutif jika diberikan PMN. Kami punya cara lain, yang pasti tidak dimatikan,” kata Dahlan.
Sumber berita: ciputraentrepreneurship.com dan redaksi
Sumber gambar: tempointeraktif.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed