Produksi Lampaui Thailand, RI Masih Rajin Impor Beras
Thailand hingga kini menjadi negara pengekspor beras utama di dunia. Padahal Negeri Gajah Putih itu produksi berasnya masih jauh di bawah Indonesia. Anehnya, Indonesia harus impor dari negeri jiran tersebut. Menteri Pertanian Suswono menuturkan bahwa meski Indonesia memiliki produksi beras per tahun lebih unggul, namun kebutuhan atau konsumsi berasnya sangat tinggi. Sementara Thailand yang hanya mampu memproduksi beras 22 juta ton per tahun bisa sanggup mengekspor ke banyak negara.
“Masalahnya, Thailand bisa surplus banyak karena dia punya luasan panen sampai 9 juta. Produksi berasnya (produksi) 22 juta ton. Kebutuhannya Cuma (konsumsi dalam negeri) 10 juta,” katanya di istana presiden. Sementara itu, Indonesia dengan produksi beras sampai 37 juta ton, namun kebutuhannya sampai 33,5 juta ton. Sehingga surplusnya hanya 4 juta atau masih sangat rendah dari kebutuhan per tahun.
“Kecil kan. Ini mengapa presiden menekankan surplus kita pada 2014 diharapkan bisa sampai 10 juta ton,” katanya. Ia juga mengatakan mengenai target roadmap produksi beras di 2012 ada peluang direvisi, Hal ini setelah melihat banyak terjadinya banjir yang merendam areal persawahan karean curah hujan tinggi.
“Kalau iklim normal sebagaimana yang disampaikan BMKG mudah-mudahan ada peningkatan produksi dari 2011. Tapi target ini roadmap sedang ditata ulang. Yang kemarin roadmap terlalu tinggi. Target surplus 2014, 10 juta ton beras tidak mesti sampai diatas 70 ribu ton sebetulnya masih dimungkinkan tapi dengan catatan konsumsi juga diturunkan,” katanya.
Diperkirakan akan ada potensi peningkatan gangguan gagal panen (puso) karena banyak lahan sawah yang terendam air. Diperkirakan jumlah luasan lahan sawah yang kena puso bisa mencapai 100.000 hektar.
Seperti diketahui Indonesia tahun 2011 dan hingga Februari 2012 akan merealisasikan impor beras hingga 1,9 juta ton termasuk dari Thailand, Vietnam dan India. Sementara itu impor beras tahun 2010 hingga akhir Maret 2011 tercatat mencapai 1,7 juta ton dari target konrak 1,99 juta ton.
Sumber berita: finance.detik.com dan redaksi
Sumber gambar: bola.vivanews.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed