Penjualan Komputer Di Indonesia Diprediksi 6,5 Juta Unit
Animo masyarakat Indonesia terhadap komputer tahun ini masih tinggi dan diperkirakan terjual 6,5 juta unit komputer. Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) memperkirakan penjualan komputer tahun ini mencapai 6,5 juta unit, meningkat 44,44% dari realisasi penjualan komputer pada 2011 yang mencapai 4,5 juta unit. Realisasi penjualan ini turun 15% dari target semula yang sebesar 5,3 juta unit. Catatan, komputer yang dimaksud Apkomindo yakni desktop, laptop, notebook, netbook, dan tablet.
Dewan Pertimbangan Apkomindo Suhanda Wijaya mengatakan pertumbuhan ini bisa saja terwujud karena tuntutan permintaan konsumen yang tak lagi bergantung hanya pada satu perangkat. Banyak konsumer saat ini memilih pakai dua perangkat, misal netbook dan tablet. Netbook untuk bekerja, sedangkan tablet untuk melakukan pekerjaan yang lebih instan.
“Kecenderungan generasi muda ke arah mobilitas, misalnya dengan tablet. Untuk profesional biasanya di kantor dia pakai notebook atau netbook, di luar kantor pakai tablet. Tapi ini hanya terjadi di masyarakat atas,” kata Suhanda.
Nielsen Indonesia memprediksi terjadi lonjakan keinginan konsumen terhadap konsumsi notebook dan laptop. Dari survei yang dilakukannya pada tahun lalu, 27% responden tertarik membeli notebook dan laptop pada 2012, sedangkan 19% tertarik akan tablet.
Prediksi kenaikan penjualan komputer atau PC (personal computer) tahun ini, menurut Suhanda, tidak lagi terimbas banjir Thailand tahun lalu. Produksi tak lagi terganggu, begitu juga harga. “Kondisi akan berjalan normal lagi, disertai kenaikan permintaan,” ucap Suhanda. Satu produsen PC global, Dell, tahun ini menargetkan kenaikan pengapalan PC ke Indonesia sebesar 20% hingga 25% dibandingkan 2011. Market Manager Dell Indonesia Willy Hendrajudo mengatakan target ini dipasang perusahaan karena potensi konsumsi PC di negeri ini masih sangat besar. Dengan penetrasi PC yang masih rendah di tengah populasi Indonesia yang banyak, sekitar 240 juta, Indonesia amat potensial sebagai lokasi penjualan PC.
“Indikator utama yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 yang mencapai 6,5%. Daya beli masyarakat Indonesia tinggi dan melihat bahwa harga PC terjangkau,” katanya. Perusahaan memfokuskan penjualan PC berharga tinggi, di atas US$600 per unit. Menurut Willy, dibandingkan PC berharga rendah dan sangat rendah, komposisi penjualan PC high-price ini mencapai 50%. “Karena sasaran kami harga tinggi, kami tidak mencari market share. Tahun ini kami ingin tumbuh menguntungkan, caranya dengan fokus pada high-price brand,” ujarnya.
Target perusahaan menaikkan pengapalan jumlah PC 25% ke Indonesia menunjukkan sudah pulihnya dampak banjir Thailand yang mengenai komponen PC Dell. Willy bercerita dampak banjir tidak begitu mempengaruhi produksi perusahaan karena hanya mengenai produksi hard disk 500 GB yang diproduksi di negeri Gajah Putih itu. Sebagian besar komponen diproduksi di lima pabrik milik Dell yang tersebar di China, Brazil, Polandia, dan Malaysia. “Kami perkirakan kondisi produksi setelah banjir Thailand mulai normal pada pertengahan tahun ini,” katanya.
Kehadiran tablet dinilai Willy bukan suatu ancaman bagi notebook dan netbook. Perangkat tersebut hanya menjadi perangkat kedua setelah PC bagi seorang consumer. Kondisi yang menurutnya sudah jamak terjadi ini mengisyaratkan terjadi peningkatan penjualan tablet di samping menanjaknya permintaan PC.
Tidak hanya Dell, Hewlett-Packard juga menaikkan target pengapalan PC, khususnya commercial desktop. ?? mengatakan pengapalan desktop untuk segmen korporasi dan pemerintah pada tahun fiskal 2012 mencapai 127.000 unit atau bernilai US$70 juta. Setiap unit dihargai US$550.
“Pastinya ada kenaikan pengiriman tahun ini dibandingkan 2011. Tapi, saya tidak bisa memberitahu karena kami masih menghitung kuartal IV. Yang pasti, kenaikannya signifikan,” tutur Market Development Manager – Personal System Group Hewlett-Packard Indonesia Ricky Handrian.
Target pengiriman desktop naik karena permintaan dari korporat dan lembaga-lembaga pemerintah masih stabil. Lagipula, menurut Ricky, dampak banjir Thailand pada tahun lalu tidak lagi begitu berpengaruh tahun ini. Saat Thailand dilanda banjir harga desktop HP meningkat 2% sampai 5% dari harga semula.
Bloomberg mencatat Toshiba Corp, produsen chip memori flash terbesar kedua di dunia, mengurangi perkiraan keuntungan sebesar 53,57% karena penguatan yen, banjir di Thailand, dan penurunan permintaan yang disebabkan krisis utang di Eropa. Perusahaan memperkirakan laba bersih pada tahun fiskal 2011 yang berakhir 31 Maret nanti ¥65 miliar atau setara US$853 juta. Sedangkan, di awal, perusahaan memperkirakan bakal menangguk laba bersih ¥140 miliar. Tak hanya laba bersih, produsen televisi REGZA dan notebook itu juga memangkas prediksi penjualan perusahaan dari ¥7 triliun menjadi ¥6,2 triliun.
Fujitsu Ltd, penyedia layanan komputer terbesar di Jepang, juga mengurangi proyeksi keuntungan 42% akibat banjir di Thailand yang mengganggu produksi komponen komputer. Laba bersih diperkirakan menjadi ¥35 miliar atau setara US$459 juta untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret. Angka ini lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya yang sebesar ¥60 miliar. Presiden Fujitsu Masami Yamamoto mengatakan perusahaan berpotensi kehilangan target penjualan 6,6 juta unit PC pada tahun fiskal 2011 setelah banjir di Thailand menunda pasokan hard-disk drive.
Fujitsu juga memangkas estimasi penjualan sekitar 1% menjadi ¥4,49 triliun dari ¥4,54 triliun. Laba operasional diperkirakan sekitar ¥100 miliar, perkiraan sebelumnya ¥135 miliar. Perusahaan riset Gartner Inc menyatakan pengiriman PC di dunia turun 1,4% menjadi 92,2 juta unit dalam tiga bulan yang berakhir 31 Desember 2011 karena lambannya permintaan konsumer.
Sumber berita: ciputraentrepreneurship.com dan redaksi
Sumber gambar: solopos.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed