Seth Priebatsch Sukses Sejak Usia 23 Tahun
Muda, sukses dan kaya. Itulah tiga gambaran yang tepat untuk mencerminkan kehidupan pria asal AS ini. Seth Priebatsch tercatat sebagai mahasiswa di Princeton University pada musim gugur 2007. Setahun kemudian dia drop out dan pada 2011 lelaki muda ini telah menjadi pemimpin dalam perusahaan miliknya yang beraset jutaan dolar.
Pemuda berusia 23 tahun itu menyebut dirinya sebagai “pemimpin ninja” di Scvngr, game berbasis sistem lokasi serta LevelUp, bisnis yang menawarkan jasa pembayaran mobile. Talenta Priebatsch di dunia entrepreneurship telah terlihat ketika duduk di bangku sekolah menengah. Mengisi waktu luang, ia menjalankan usaha manufaktur percetakan bertajuk Postcard Tech yang memiliki pabrik operasional di Hong Kong dan pusat distribusi di Boston.
Di Princeton, Priebatsch mempunyai minat lain. Ia tak lagi tertarik dengan bisnis percetakannya tapi menyimpan minat yang sangat besar dengan game. “Saya benar-benar mulai terpesona dengan seberapa besar saya serta orang lain di jurusan teknik menyukai game,” jelasnya. “Tapi saya juga tertarik untuk menjadi sosok yang menciptakannya.”
Termotivasi untuk mengembangkan konsep game dari hardware tradisional ke dunia nyata, Priebatsch meminta bantuan seorang profesor dalam merancang demo platform game mobile. Demo tersebut sukses menjuarai lomba business planning dan Priebatschpun berkesempatan mengembangkan idenya di inkubator DreamIt Ventures di Philadelphia.
Di inkubator itu, ia mulai memperkuat sistem untuk game-nya. “Ini (Scvngr) merupakan game mobile berbasis kehidupan nyata,” terangnya. “Pemain bisa check in di sebuah lokasi dan memecahkan tantangan misalnya menyelesaikan puzzle atau menjepret foto berbasis lokasi, untuk memeroleh hadiah. Pemain, perusahaan dan institusi bisa menambah lokasi mereka untuk turut serta dalam sistem tantangan tersebut. Jadi ini (Scvngr) dirancang oleh umum, orang-orang seperti Anda. Anda bisa memeroleh hadiah dengan mengakses lokasi-lokasi itu, berupa kupon minum kopi atau sesuatu yang menarik di Smithsonian Institute.”
Dengan lebih meningkatkan komitmen dalam bisnis barunya, Priebatsch memutuskan untuk meninggalkan Princeton. Ia membawa bisnisnya ke Boston dan memeroleh dana dari Highland Capital Partners sebesar $750 ribu untuk mengembangkan usahanya. Pada Desember 2009, perusahaan miliknya memeroleh tambahan pembiayaan dari Google Ventures sebesar $4 juta dan pada Januari 2011, Scvngr kembali memeroleh pembiayaan yang kali ini berasal dari Balderton Capital sebesar $15 juta. Menurut laporan laman Entrepreneur.com, Selasa 24 Januari 2012, Scvngr telah berhasil menarik minat 2 juta user dan 5.000 perusahaan besar sejak pertama kali diluncurkan.
Setelah berhasil membawa Scvngr ke posisi stabil, Priebatsch melirik peluang usaha baru dengan meluncurkan proyek LevelUp yang pada awalnya berkonsep daily deal berbasis lokasi. Tapi, ide itu kemudian segera digeser menjadi jasa pembayaran berkode QR untuk iPhone dan Android. Dengan mendaftar serta mengunduh aplikasi gratisnya, user bisa memeroleh kode unik yang mampu menghubungkan kartu kredit atau kartu debet dengan smartphone mereka. Ketika kode itu di-scan di ritel yang turut serta dalam program, user mendapatkan kredit yang bisa dibayarkan pada kunjungan selanjutnya. LevelUp diminati 100.000 user dalam jangka waktu 12 minggu pasca diluncurkan dan telah tersedia di empat kota di AS.
Menanggapi kesuksesannya, Priebatsch mengaku tak menyesal dengan keputusannya meninggalkan kuliah untuk fokus pada bisnisnya. “Pilihan untuk meninggalkan kuliah sebenarnya bukanlah pilihan besar seperti yang dibayangkan,” tuturnya. “Jika Scvngr tidak sesuai harapan, saya bakal kembali kuliah setahun atau satu semester setelahnya. Dan kasus terburuk yang sesungguhnya bagi saya adalah menunggu hingga setahun untuk mencicipi pengalaman luar biasa mengenai segala sesuatu yang benar-benar berisiko besar.”
Sumber artike : ciputraentrepreneurship.com dan redaksi
Sumber gambar: sxsw.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed