Widayanto, Sang “Profesor” Keramik


Bagi pecinta keramik, nama Fransiskus Widayanto sudah tidak asing lagi. Tak cuma di tanah Air, popularitas pria kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953 silam, ini sebagai keramikus sudah menyebar ke mancanegara. Dia pernah menggelar pameran di Singapura dan Australia. Salah satu karyanya, Maria, kini terpajang anggun di sebuah gereja di Israel.

Widayanto selalu menciptakan tema-tema khusus pada setiap karyanya. Ia memegang prinsip, pantang meniru gaya seniman keramik lain. “Karya tematik lebih menggunakan karakter pribadi, tak boleh saklek pada sejarah, tapi tetap bisa mengusung sejarah dengan mengikuti tren yang ada,” jelas lulusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB), ini.

Selain itu, Yanto, demikian ia akrab disapa, juga tetap menciptakan keramik sebagai barang fungsional. Hingga saat ini, dia telah menciptakan sekitar 13 tema karya keramik. Sebut saja, Ganesha-ganeshi, Kendi, Ukelan, Ibu dan Anak, Dewi Sri, Fantastic Lady, Narcissus Narcissus, dan Semar. “Satu tema tak hanya terdapat satu patung keramik. Semar, misalnya, ada 30 patung,” kata dia.

Kini Yanto tengah menyiapkan karya terbaru dengan tema China Green. Ini merupakan patung-patung keramik yang mengusung kisah tentang anak-anak kecil dari etnis China dalam menyambut Imlek. Adapun untuk keramik sebagai barang fungsional, Yanto mengaku sudah menciptakan ribuan karya. “Jumlahnya sudah ribuan, tak bisa saya menghafal satu per satu,” lanjutnya.

Yanto tidak membangun nama di dunia keramik dalam sekejap. Kecintaannya pada seni mengolah tanah liat ini mulai bersemi ketika SMA, sekitar tahun 1972. Dia tercebur di dunia keramik lantaran mengaku tak kuat menerima pelajaran matematika. “Setiap pelajaran tersebut, saya lebih suka menggambar. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk mogok saja ketimbang harus menghitung yang sangat njelimet,” kenangnya.

Makanya, selepas SMA, ia memilih kuliah di Seni Rupa, ITB. Pilihannya jatuh ke seni keramik. Dari sini, bakat menggambarnya tak cuma tersalurkan, tapi juga berkembang dengan pesat. “Kuliah menjadi menyenangkan karena tak ada matematika. Yang ada hanya menggambar, sangat mudah bagi saya,” ujarnya terkekeh. Kuliah di jurusan yang ia sukai ternyata tidak lantas membuatnya senang. Sebab, di tahun pertama, sang dosen hanya menyuruh mengumpulkan tanah, menumbuk, dan menyaringnya. Jelas, ini membuat Yanto sempat stres.

Namun, pelan tapi pasti, Yanto mulai mengenal dan mencintai seni keramik. “Ini adalah seni yang sangat indah. Analoginya, semua barang kalau dibakar akan rusak, tapi ternyata keramik kebalikannya. Semua barang yang dibakar justru semakin kuat,” ujarnya. Dia yakin, sebongkah tanah bukan barang tanpa guna. Bagi dia, tanah sama seperti kanvas, perunggu, perak, atau emas. Seorang pelukis akan sangat menghargai kanvas sebagai wadah berekspresi.

Pria yang memilih hidup melajang ini juga memaknai tanah sebagai wahana yang bisa diajak berdialog, ber-ekspresi, sekaligus mengaktualisasikan diri. Lulus dari ITB pada 1981, ia sudah mantap berkarier di bidang keramik. Pameran pertamanya di Erasmus Huis, Jakarta, pada 1983 mendapat sambutan hangat dari publik.

Tak lama seusai pameran perdana, seorang kerabat menawarinya membuka sanggar di daerah Ciawi, Bogor. Setelah itu, ia membuka sejumlah sanggar lainnya. Kini, selain sanggar sekaligus rumah di Ciganjur, Jakarta, Yanto membuka sanggar di Tapos, Bogor, Setiabudi, dan Panglima Polim, Jakarta. Untuk membagi talentanya di bidang keramik, ia juga sempat mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dari 1990 hingga 1997. Namun, setelah itu, ia lebih memilih untuk makin menekuni ilmu di studionya di Ciganjur. Dia bilang, studio ini terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai keramik.

Meski sudah mencipta ribuan keramik, Widayanto tak pernah kehilangan gairah untuk belajar. “Saya belum merasa puas, saya akan terus belajar dan berkarya,” tegasnya bersemangat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah duet dengan Noriaki Koba-yashi, pakar porselen dari Jepang, pada tahun 2007. Pameran perdana duet kera-mikus ini bertajuk Permainan Anak-Anak Indonesia. Memanfaatkan momentum HUT RI, mereka memilih karya “Panjat Pinang” sebagai ikon pameran. Di tahun yang sama, Yanto mendirikan PT Kharisma Porselen Indonesia dan PT Kharisma Tembikar Indonesia. Dua perusahaan ini memasarkan desain Yanto yang diproduksi di PT Pearland Indonesia.




Sumber berita: ciputraentrepreneurship.com dan redaksi

Sumber gambar: kharismatembikar.com

Leave a Comment

    Twitter JPMI

Komentar Terbaru

  • Admin: Assalamualaikum Wr Wb Bapak bisa mengunjungi situs http://www.kopirolling.web.id/products...
  • Admin: Ibu bisa mengunjungi website http://omahpermen.blogspot.com/...
  • Admin: Alamatnya Dukuh Karangjati RT 04/RW V, Karanggeneng, Boyolali....
  • Admin: Amin......
  • Agung: Semoga cita2 besar Kang Yosa tercapai. Semoga jahe merah ini menjadi identitas untuk Kabup...