Sue Harnett, Membidik Untung dari Foto Olahraga


Sebagai mantan pebasket putri di tim All-American ketika mengenyam pendidikan di Duke University, AS, pada era 1980-1990, Sue Harnett benar-benar tahu teknik membidik yang tepat. Kemampuan membidik itu tak hanya keahlian mencetak poin dengan menembakkan bola basket ke dalam keranjang tapi juga teknik membidik obyek melalui lensa kameranya. Berbekal kemampuannya itu, iapun membangun bisnis yang bergerak di bidang jasa pemotretan khusus untuk event olahraga.

Perusahaannya yang bernama Replay Photo mengelola beberapa toko online foto untuk para atlet di perguruan tinggi serta olahragawan profesional. Replay juga disebut-sebut sebagai pemegang lisensi eksklusif GigaPixel FanCam yang memadukan toko online dengan aplikasi media sosial yang memberi kesempatan user untuk mencari serta men-tag diri mereka sendiri dalam bidikan high-definition.

“Setiap orang suka mengabadikan momen atau pertandingan besar menjadi sesuatu yang bisa mereka miliki selamanya,” ujar Harnett. “Bagi kami, hal itu berkenaan dengan berbagi momen-momen tersebut.”

Ide merintis Replay datang pada tahun 2002 saat ia bekerja sebagai administrator layanan kesehatan dan relawan di departemen atletik Duke University, sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Seiring perjalannya sebagai relawan, ia diminta direktur departemen atletik untuk mengambil foto atlet dan ajang di bekas almamaternya tersebut sebagai sumber penghasilan baru. Setelah mengabadikan ke dalam lembaran foto, Harnett baru mengetahui bahwa foto-fotonya itu bisa mendatangkan penghasilan cukup tinggi.

Dengan tabungan pribadinya dan peranan dua orang partnernya, Harnett menghabiskan waktu selama beberapa bulan menyusun database untuk keperluan toko online-nya. Iapun mempekerjakan programmer untuk mendesain dan membuat website. Pada 2005, ia berhenti dari pekerjaan layanan kesehatannya dan fokus mengembangkan Replay.

Di awal-awal perintisannya, perusahaan milik Harnett memiliki tujuan yang sangat sederhana dan hanya fokus pada proyek di Duke University, di mana ia membayar lisensi kepada pihak universitas atas setiap foto yang berhasil dijualnya. Beberapa tahun kemudian, setelah ia menemukan investor, Harnett menambah pegawai serta melakukan serangkaian ekspansi dan mulai menawarkan jasa ke beragam universitas.

Pada awal 2011, Replay membuka jalur kerja sama dengan FanTech yang berbasis di Afrika Selatan dan menandatangani kontrak eksklusif selama lima tahun. Kerja sama itu memberi kesempatan FanTech untuk menjual foto-foto FanCam di AS. Teknologi itu melahirkan 360 derajat, 5 juta pixel foto-foto tempat keramaian di berbagai ajang. Fans atau user yang kebetulan sedang berada di keramaian itu bisa mencari diri mereka, memperbesar foto diri mereka, membelinya serta meng-upload-nya di Facebook atau Twitter.

Meski Harnett tak ingin mengumbar pendapatan perusahaannya kepada publik tapi ia menyebut Replay sebagai “multimillion-dollar business” dan menyatakan bahwa prosentase omzetnya meningkat setiap tahunnya sekitar 25 hingga 30 persen.

Untuk mendukung pernyataannya itu, ia menyebutkan ratusan kliennya termasuk diantaranya yaitu 140 perguruan tinggi dan universitas, pewaralaba NFL dan NBA serta program perjalanan ESPN College GameDay. Seperti dilansir dari laman Entrepreneur, bulan November 2011, Replay akan melebarkan sayap dengan merambah obyek olahraga lain yang dibidiknya yakni sepakbola dan lari.




Sumber artikel: ciputraentrepreneurship.com dan redaksi

Sumber gambar: replayphotos.com

Leave a Comment

    Twitter JPMI

Komentar Terbaru

  • Admin: Assalamualaikum Wr Wb Bapak bisa mengunjungi situs http://www.kopirolling.web.id/products...
  • Admin: Ibu bisa mengunjungi website http://omahpermen.blogspot.com/...
  • Admin: Alamatnya Dukuh Karangjati RT 04/RW V, Karanggeneng, Boyolali....
  • Admin: Amin......
  • Agung: Semoga cita2 besar Kang Yosa tercapai. Semoga jahe merah ini menjadi identitas untuk Kabup...