Indonesia Pasar Produk Pertanian Selandia Baru dan Australia
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui Indonesia merupakan pasar yang besar produk pertanian Selandia Baru dan Australia dalam perdagangan besar dengan dua negara tersebut.
“Kalau dilihat dari penduduk, Indonesia memang pasar yang besar bagi mereka. Tapi bagi kita, pasar di sana terbatas,” kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi seusai diskusi buku Pangan Rakyat: Soal Hidup Atau Mati 60 Tahun Kemudian, di Jakarta, Senin (23/4).
Meski demikian, Bayu menuturkan, Indonesia dapat mengekspor produk-produk pertanian tropis seperti buah-buahan tropis ke dua negara tersebut. Menurutnya, produk pertanian tropis merupakan basis perdagangan bebas Indonesia-Selandia Baru dan Australia. “Produk pertanian tropis itu yang menjadi kekuatan kita dan tidak akan kalah saing.”
Disamping mengekspor buah-buahan tropis, kerja sama Selandia Baru-Australia dengan Indonesia juga dapat dilakukan dengan memproduksi produk pertanian di Indonesia dan mengekspornya ke negara lain. Menurut Bayu, basis produksi dapat dilakukan di Indonesia dan dua negara tersebut berinvestasi dengan menyumbangkan teknologi.
Ia menyontohkan, produk peternakan sudah dilakukan di Jawa Timur. “Saya kira sudah dalam bentuk perusahaan-perusahaan mereka yang go public. Kerja sama peternakan itu di Jawa Timur. Jadi, saat ini tidak cukup hanya basis industri on farm tapi juga ke agri industri,” tuturnya.
Terkait masalah pangan, Bayu mengungkapkan seharusnya Indonesia dapat memasok bahan pangan dunia. Dalam buku yang dilansir Bayu pada acara diskusi tersebut, pada tahun 1952 ketika Soekarno berpidato saat meletakkan batu pertama Institut Pertanian Bogor (IPB), persediaan Indonesia hanya 7,2 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan jumlah penduduk hanya 75 juta jiwa.
Sedangkan pada 2011 lalu, persediaan Indonesia mencapai 66 juta ton GKG dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 235 juta jiwa. “Memang masalah pangan masih menjadi masalah yang harus kita jawab. Tetapi kita telah berhasil mengatasi masalah yang kita hadapi tahun 1952 karena produksi kita saat ini meningkat 9 kali lipat dari waktu itu. Tetapi sekarang, tantangan jauh lebih berat. Kita menghadapi iklim yang tidak pasti, kita menghadapi juga shock internasional dari pangan, kita juga lihat negara-negara besar memberikan minat yang besar terhadap pangan, mereka bisa beli. Jadi, ke depan ya kita harus terus berusaha,” terang Bayu.
Sumber : mediaindonesia.com
Sumber gambar : deptan.go.id

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed