Raup Laba dari Kulit Kakap
Siapa sangka, “limbah” yang tak berguna bisa diubah menjadi sebuah camilan yang sangat gurih dan renyah, untuk menemani santap makan. Itulah yang kini tengah dirintis pasangan suami-istri Saimin dan Sri Jamiati, warga Perumahan Bumi Singkil Permai, Karanggeneng, Boyolali ini. Sejak tiga bulan terakhir ini, Saimin tengah mengembangkan makanan keripik kulit ikan kakap menjadi sebuah industri rumah tangga untuk menghasilkan pundi-pundi uang keluarga.
Perlahan tapi pasti, usaha ini pun memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan, pemasarannya pun sudah merambah di Solo hingga Jakarta. Saimin menceritakan usahanya ini berawal saat dirinya dirinya jajan di sebuah warung di Solo yang menyuguhkan keripik serupa. “Ternyata saya memberanikan diri untuk mencoba,” ujar dia. Namun, usaha tersebut ternyata tidak mudah. Dirinya mengaku untuk belajar membuat keripik kulit ikan kakap ini butuh penelitian selama satu bulan. “Selama itu saya belajar dan mencoba dan akhirnya bisa menemukan formulasi keripik yang gurih, empuk dan tidak mudah melempem,” tambah dia.
Saat mencoba usaha ini, Saimin menjelaskan dirinya memesan bahan baku sekitar 35 kg kulit dengan harga Rp 35.000/kg yang didatangkan dari sebuah pabrik ekspor daging kakap di Semarang. Saat itu, modal awalnya sekitar Rp 1 juta.
Diakui Saimin, sebetulnya usaha pembuatan keripik kulit ikan ini sudah ada di beberapa tempat, terutama di Solo. Namun, usaha yang dirintisnya ini memiliki perbedaan dengan keripik yang sudah ada. Hal itu tidak lepas dari pengolahan kembali kulit itu sendiri yakni dengan digoreng sebanyak dua kali.
Saimin menjelaskan dalam mengolah keripik itu, awalnya, kulit direndam dengan air selama dua hari dua malam. Setelah itu, dibersihkan daging yang masih menempel di kulit. Lalu diberi bumbu seperti garam, bawang putih, ketumbar. Selanjutnya, kulit dijemur hingga kering dibawah terik sinar matahari. “Kalau menggunakan oven kulit ikan kakap tidak bisa mekar dan justru akan merusak kulit itu sendiri,” papar dia.
Setelah kering, jelas Saimin, kulit dipotong-potong dan digoreng sebanyak dua kali. “Baru setelah itu kami kemas dalam plastik kecil dengan harga jual Rp 1.000/bungkus,” jelas dia. Kini, setelah tiga bulan berjalan, usaha yang dirintisnya tersebut membuahkan hasil. Selain di wilayah Boyolali, ada sejumlah pesanan dari wilayah Solo dan Jakarta. Bahkan kini dirinya mengolah sekitar 5 kg kulit kering.
Mengenai kendala yang dihadapi, Saimin mengaku hanya masalah kendala dalam pengeringan kulit, yang masih mengandalkan sinar matahari langsung. Selain itu, jelasnya, usaha ini juga masih ditangani dirinya sendiri bersama istri dan anak-anaknya. Saimin juga sudah mantap menggeluti usaha keripik kulit ikan kakap ini. Sebelumya, pernah menggeluti usaha penjualan alat-alat dapur. Bahkan pernah usaha tanaman hias saat booming tanaman hias beberapa waktu lalu.
Sumber berita: Solo Pos.com dan redaksi
Sumber gambar: hanada-food.blogspot.com

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed