BERBISNIS DI ERA VUCA PANDEMI COVID-19

vuca

“Kesulitan beradaptasi dengan VUCA ini karena sistem pendidikan kita sangat terbiasa dengan hal-hal yang terprediksi, linear, jelas dan seragam. Serta ketakutan untuk menanggung resiko lazim sekali menyebabkan suatu perusahaan atau organisasi tidak berhasil memenangkan bisnisnya di era VUCA ini”

Perusahaan banyak yang tutup, PHK terjadi dimana-mana. Tenaga medis banyak yang wafat. pasar tutup, lembaga pemerintahan juga menutup pelayanan, transportasi dibatasi. Kurs rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat drastis. Beginilah kondisi VUCA yang kita alami dimasa pandemi COVID-19. Entah sampai kapan, tidak ada yang bisa menjawab. Banyak perusahaan gagap menyikapi situasi saat ini, pada akhirnya yang sigap dan risk taker lah yang berhasil memenangkan bisnisnya.

VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity. VUCA tidak hanya terjadi pada masa pandemi COVID–19, VUCA telah mempengaruhi atmosfer bisnis sejak teknologi digital semakin berkembang, hanya saja di masa wabah COVID-19 ini, tingkatan VUCA nya semakin bertambah. Mari kita bahas lebih detail lagi.

Volatility mengacu kepada kecepatan perubahan, dalam suatu industri, pasar bahkan dunia. Ini lebih identik dengan fluktuasi permintaan dan gejolak pasar. Tantangan dari volatility ini cukup bisa dihadapi, karena adanya pengetahuan yang relevan dengan tantangan tersebut. Sebagai contoh, fluktuasi harga ketika terjadi bencana. Hal ini bisa diatasi dengan menimbun persediaan atau mempersiapkan sumber daya sebelum terjadi bencana. Berikut studi kasus terkait volatility: ABC Donuts adalah waralaba yang memiliki 30 gerai tersebar di Amerika dan Canada, menjual ribuan donat setiap harinya. Pada tahun 2011 biaya untuk per pound adonan donat adalah $4 kemudian turun menjadi $2, dan meningkat drastis pada Januari 2012 menjadi $6 per pound. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh kepada peningkatan biaya dan berpotensi menciptakan krisis di perusahaan. Inilah kondisi volatility yang dihadapi ABC Donuts. Tantangan bagi pimpinan perusahaan untuk menemukan solusi yang tepat bagaimana cara menekan biaya tetapi tidak mengabaikan customer satisfaction. Pimpinan perusahaan ABC Donuts aktif mengadakan diskusi dan brainstorming, mencari insight dari karyawan, vendor, customer dan juga memantau strategi yang dilakukan kompetitor, karena tentunya kompetitor juga menghadapi masalah yang sama. Setelah melewati proses analisa yang panjang, pada akhir tahun diputuskan bahwa menetapkan standar baru untuk adonan tapi tidak ada perubahan dengan topingnya. Penamaan donut dilakukan berdasarkan topingnya, bukan ukurannya. Akhirnya strategi ini berhasil menaikkan revenue ABC Donuts, tapi tentu saja sempat melewati masa penurunan karena dibutuhkan waktu untuk training karyawan dengan standar yang baru.

Uncertainty terkait dengan ketidakpastian sehingga begitu susah untuk membuat prediksi ke depan. Ketidakpastian ini sering disebabkan oleh kurangnya informasi. Misalnya ketika kompetitor menunda peluncuran produk terbarunya. Tentu ini membuat kita bertanya-tanya, apa yang akan terjadi pada pasar di masa depan. Apa alasan dibalik penundaan peluncuran produk tersebut. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk mendapatkan informasi yang akurat, berinvestasilah agar bisa memperkaya sumber informasi yang dibutuhkan dalam menavigasi ketidakpastian ini. Studi kasus berikut mengenai uncertainty akan menambah pemahaman kita. XYZ Engines adalah industry yang memproduksi mesin untuk kendaraan di Eropa. Pada tahun 1990 International Pollution Control Board mengeluarkan peraturan baru terkait emisi kendaraan dalam rangka meningkatkan kualitas udara di daerah urban. XYZ Engines merespon regulasi baru ini dengan menciptakan branding “XYZ Sensation” yang berfokus pada memberikan pengalaman mengemudi yang nyaman dan berenergi dan menyenangkan, lebih dari sekedar driving experience. Hal ini tentu saja tidak hanya berhenti dengan strategi branding saja tetapi ada tantangan teknologi yang harus mereka hadapi. Bagaimana bisa memenuhi standar regulasi yang baru terkait emisi kendaraan, dan tetap memperhatikan customer satisfaction. Pimpinan perusahaan telah mengetahui beberapa opsi teknologi yang tepat, akan tetapi mereka kuatir kompetitor bisa menghasilkan teknologi yang lebih baik. Ini lah uncertainty yang dialami oleh XYZ engines, disamping itu juga complexity karena begitu banyak variasi pilihan teknologi, belum lagi ambiguity karena tidak ada satupun yang yakin seberapa bagus hasilnya. Untuk mengatasi uncertainty ini, pimpinan perusahaan melakukan diskusi dan brainstorming dengan berbagai scenario, dan juga meminta insight dari konsultan. Setelah mendapatkan berbagai perspektif dan kemungkinan, kemudia akhirnya diputuskan business model dan teknologi yang tepat untuk memenuhi peraturan yang baru. Akhirnya pimpinan XYZ Engines berhasil menghadapi tantangan uncertainty, complexity dan ambiguity ini. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai complexity dan ambiguity.

Complexity berhubungan dengan banyak faktor dengan segala variasi dan jenis keterkaitannya. Semakin banyak faktor dan jenis keterkaitan maka semakin kompleks situasi yang dihadapi, dan tentu saja sangat tidak memungkinankan melakukan Analisa secara keseluruhan. Misalnya: jika bisnis dioperasikan di banyak negara atau daerah yang tentu saja memiliki banyak perbedaan regulasi dan budaya. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan restrukturisasi, membangun spesialiasasi dan dibangunnya sumber daya yang memadai untuk mengatasi kompleksitas tersebut. Karena tantangan setiap daerah sangat jauh berbeda, maka diperlukan struktur yang sesuai atau penanganan yang spesialisasi untuk setiap kasus.

Ambiguity terkait dengan hubungan sebab akibat yang sangat tidak jelas. Ketika informasi tidak lengkap, tidak akurat atau bahkan kontradiksi maka akan sangat susah untuk menarik kesimpulan yang jelas. Misalnya ketika memutuskan apakah akan penetrasi ke market yang baru atau yang sedang berkembang atau meluncurkan produk baru yang sangat jauh dari kompetensi perusahaan atau pribadi. Dalam situasi seperti ini perlu dilakukan eksperimen, memahami sebab akibat berdasarkan hipotesa dan uji coba.

Untuk memenangkan bisnis dalam kondisi VUCA ini diperlukan kegesitan, kecepatan dalam menentukan arah serta mengeksekusi perubahan tersebut. Hindari struktur organisasi atau perusahaan yang sangat rumit sehingga menghambat kecepatan menganalisa masalah dan segera mengambil keputusan. Kesulitan beradaptasi dengan VUCA ini karena sistem pendidikan kita sangat terbiasa dengan hal-hal yang terprediksi, linear, jelas dan seragam. Serta ketakutan untuk menanggung resiko lazim sekali menyebabkan suatu perusahaan atau organisasi tidak berhasil memenangkan bisnisnya di era VUCA ini.

Sumber :https://hbr.org/2014/01/what-vuca-really-means-for-you dan beberapa sumber lainnya.

Foto : Adobe Photo Stock